Reservasi

Jl. Murbei no 17A-B Sumurboto Banyumanik Semarang +62-818716073

Spesialis THTTenggorokan

Jangan Anggap Remeh Kebiasaan Ngorok

Ilustrasi Orang Tidur dengan Kebiasaan Ngorok

Pernah ditegur oleh teman tidur bahwa kita mendengkur alias ngorok? Rasanya sudah jamak terjadi ya. Sering kali kita menghadapi teguran tersebut dengan menganggap ngorok adalah hal biasa. Ternyata, tidak sesederhana itu, lho. Ngorok bukan hal normal dan bisa memperpendek umur! Karena itu, jika Anda punya kebiasaan ngorok yang mengganggu tidur tenang Anda, jangan segan konsultasi ke dokter THT terdekat. Sebelum itu, simak dulu tulisan ini yang akan membahas tentang kebiasaan mendengkur alias ngorok.

Mengapa ngorok bisa memperpendek umur? Ngorok merupakan pertanda terjadinya hambatan pernafasan yang terus menerus. Ini bisa mengakibatkan gangguan jantung, hipertensi, ngantuk di siang hari, atau bahkan kematian mendadak karena sleep apnea (berhenti nafas saat tidur).

Jika jenis ngoroknya tidak sampai level membahayakan jiwa atau memperpendek umur, maka ngorok tanpa hambatan nafas hanya mengganggu “good night sleep”. Untuk tetap bisa mendapatkan “good night sleep” alias tidur yang berkualitas, kita perlu kenal lebih jauh dengan yang namanya kebiasaan ngorok ini.

Ngorok alias mendengkur atau snoring hanya akan terjadi saat ada hambatan aliran pernafasan. Hambatan ini bisa muncul di hidung, di mulut dan atau di tenggorokan. Untuk mengetahui secara tepatnya di mana terjadinya hambatan pernafasan dan timbulnya bunyi dengkur, tersebut perlu pemeriksaan teliti seorang spesialis THT. Pemeriksaannya sangat variatif.

Secara pemeriksaan fisik diperkirakan ngorok terjadi karena :

  1. Concha hypertrophy (kerang hidung yg besar)
  2. Tonsil hypertrophy (amandel yang besar)
  3. Lidah besar
  4. Kegemukan (obesitas), akibatnya lemak di dinding tenggorokan yang tebal bisa menghambat pernafasan
  5. Langit-langit tenggorokan yang kendor.
  6. Anak tekak (uvula) yang panjang, ini juga bisa menimbulkan bunyi pada dengkur.

Kita sampai pada kesimpulan, bahwa obstructive sleep apnea (ngorok yang sampai menghambat aliran nafas) adalah penyakit struktur yang hanya bisa diatasi dengan melonggarkan struktur yang menyumbat tadi.

Misal karena kerang hidung besar, maka bisa dilakukan concha reductie atau conchotomy untuk mengecilkannya.

Bila yang masalah adalah amandel yang besar, maka pengangkatan amandel adalah solusi.

Bila kegemukan maka solusinya menguruskan badan.

Bila langit-langit dan anak tekak yang kendor, solusinya UPPP (uvulo pharyngo palatoplasty).

Besarnya lidah bisa diatasi dengan operasi tongue base channeling (mengerutkan basis lidah).

Menurut dr. Henny Kartikawati, M.Kes.Sp.THT,KL, penanganan dengkur yang menghambat pernafasan ini tidak hanya dengan cara operasi. Penggunaan alat seperti chin retractor, mouth piece tongue device, CPAP (continuous positive airway pressure) adalah pilihan disesuaikan dengan di level mana terjadi hambatan pernafasan pada penderita.

Bila cara penggunaan alat-alat bantu tersebut masih belum menyamankan pasien dan pasangan tidur, maka tindakan operasi adalah solusi.

Operasi untuk masalah obstructive sleep apnea saat ini bukanlah operasi yang berbahaya, setelah ditemukan teknologi plasma coblation. Alat plasma coblation ini memiliki triple function pada satu ujung (suction, controlled ablation, dripping NaCl). Akibatnya hasil potongannya bisa dibilang tidak berdarah, tidak terbakar (krn hanya 40 derajat celcius) dan endingnya terbentuk pengerutan. Pengerutan untuk kerang hidung yang besar, langit langit tenggorokan yang kendor dan basis lidah yang besar adalah hal yg kita inginkan untuk memperlebar jalan nafas pada kasus dengkur yang menghambat pernafasan.

Saat ini di negara maju, alat plasma coblation ini sudah sangat biasa digunakan untuk operasi pengangkatan amandel. Tingkat keamanannya tinggi. Operasi UPPP (uvulo pharyngo palatoplasty) juga sangat terbantu jika menggunakan alat ini.

Radang tenggorok kronis, dahak yang selalu ada tiap pagi, mulut kering kerap kali juga disebabkan karena dengkur. Jadi jika dengkurnya tidak diatasi, maka kondisi tenggorok yang tidak pernah nyaman adalah bagian dari pengaruh dengkur terhadap kesehatan juga.

Amati gaya dengkur pasangan tidur Anda (atau sebaliknya jika Anda yang punya kebiasaan ngorok). Kalau perlu videokan, kemudian berkonsultasilah dengan dokter THT, dokter jantung atau dokter paru. Konsultasi dengan dokter THT misalnya, akan memberikan penjelasan dan pencerahan terkait dengkur alias ngorok ini. Resiko kesehatan yang bisa muncul akibat dengkur ini, harus dilihat kasus per kasus karena masing-masing pendengkur permasalahannya bisa berbeda-beda. Tentu saja, penanganan yang diterapkan juga akan berbeda-beda.

Jika Anda perlu berkonsultasi dengan dokter tentang kebiasaan ngorok Anda, dan mencari dokter THT di Purwodadi, dokter THT di Salatiga, atau dokter THT di Ungaran, Anda tidak perlu berpikir panjang. Segera konsultasi pada Dr. Henny Kartikawati, M.Kes.Sp.THT,KL yang membuka praktik di Semarang, atau konsultasi online dengan mengisi form ini.

Call Now ButtonCall